Limapertanyaan untuk dapat membuat Ray mengerti makna hidup dan kehidupannya. Aku selalu suka karya Tere Liye sebab setiap karya yang dihasilkan penulis bernama asli Darwis itu, pasti berhasil membuatku terkagum. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu memiliki sentuhan brilian. Rembulan Tenggelam di Wajahmu, film adaptasi novel karya Tere Liye dengan judul yang sama, rilis di bioskop Indonesia hari ini, Kamis (12/12/2019).Film ini mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidup. Cerita bermula dengan kisah pengusaha kaya raya berusia 60 tahun, Ray, yang sekarat di rumah sakit. Dia dikenal sebagai pengusaha properti yang terus mengekspansi bisnisnya. Terlebih beberapa hasil karya tulis Tere Liye pun diangkat ke dalam bentuk layar lebar, di antaranya Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan sebagainya. Salah satu hasil karya tulis Tere Liye yang juga menempati jajaran best seller Indonesia yang akan dibahas pada artikel, yaitu Bintang . cash. Ridha Rizky Ananda Moriza Sastra Wednesday, 12 Oct 2022, 1557 WIB Resensi novel Rembulan Tenggelam di WajahmuDibuat Oleh Ridha Mutiara Rizky Ananda Moriza Judul Rembulan Tenggelam di Wajahmu Penulis Tere-Liye Penerbit RepublikaTanggal Terbit Maret-2009Halaman 427 HalamanHarga Rp. dan unik, itu adalah dua kata pertama yang terlintas dalam benak saya saat pertama kali membaca novel ini. Latar belakang dan jalan cerita yang barangkali jarang atau hampir tidak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang ini digarap tuntas oleh Tere Liye–sapaan akrab sang penulis. Penulis yang bernama asli Darwis ini mahir merangkai kata demi kata menjadi kalimat, sehingga mampu membuat potongan-potongan kejadian menjadi sebuah lembaran kehidupan yang utuh. Sebagai penggemar garis keras Tere Liye, saya dibuat sulit untuk tidak membuka lembar demi lembar selanjutnya dalam sekali baca. Bagi saya, membaca novel ini layaknya belajar tentang kebijaksanaan, belajar perihal kesederhanaan dan keikhlasan dalam penerimaan jalan hidup. Selain itu, novel ini pun mengajarkan untuk senantiasa berbaik sangka pada semesta dan Sang Penciptanya. Memahami bahwa pada beberapa hal di dalam hidup, mengalah bukan berarti kalah, tidak membalas bukan berarti lemah. Ada kalanya menerima adalah jalan terbaik bagi diri untuk menjadi apa adanya.. Sebab Sang Pencipta itu adil dengan Rembulan Tenggelam di Wajahmu ini memberi input yang sangat sederhana, tetapi sangat mengena untuk dicerna. Misalnya saja, banyak dari kita –Termasuk saya sendiri– seringkali melupakan untuk melihat segala pristiwa dari berbagai sisi dan bukan dari kacamata kita saja. Tak jarang segala penilaian terhadap orang lain ataupun keadaan itu langsung dilontarkan, tanpa mau menelaah secara objektif. Maka dari itu lahirlah perdebatan-perdebatan sebab keselisih pahaman akan suatu penilaian yang bahkan kita sendiri pun tidak tahu, tentang sisi lain yang sebenar-benarnya kita pemikiran di dalam novel ini yang membuat saya kagum adalah, pemaknaan dari “kehilangan.” Semua kehilangan itu menyakitkan . dan cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi, bukan dari sisi yang ditinggalkan ’ Maka kemudian tidak akan ada lagi pertanyaan lanjutan yang mungutuk langit seperti Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hamba-Nya? Apa semua kesedihan ini kurang menyakitkan?’? Menurut saya, Tere Liye sangat apik menuliskan alur demi alur untuk memberi gambaran kehidupan ke pembacanya. Dengan tokoh yang dibuat melalui kehidupan yang tak mudah, tapi pada akhir cerita sang pembaca mampu paham tentang apa sebenarnya teka-teki hidup yang dialami si tokohBerikut adalah penggambaran singkat tentang novel yang dari tadi saya sebut luar biasa ini. Novel setebal 426 halaman ini bercerita tentang seseorang yang mempunyai lima 5 pertanyaan besar di dalam hidupnya. Lima 5 pertanyaan sederhana yang mungkin banyak orang juga cinta itu?Apakah hidup ini adil?Apakah kaya adalah segalanya?Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup?Apakah makna kehilangan?Lantas, kelima pertanyaan tersebut dijawab satu per satu secara berurutan dengan serangkaian peristiwa masa lalu sang tokoh dengan jawaban yang bijak dan sederhana. Di dalam novel ini, kita berkenalan dengan tokoh utama yang bernama Ray, seorang remaja tanggung yang tinggal di panti asuhan dengan penjaga panti yang sok suci. Rehan Raujana, nama yang diberikan istri penjaga panti yang telah meninggal. Lantas ia mengganti namanya menjadi Ray. Hanya Ray, karena menurutnya, panjang-pendeknya suatu nama, ia akan tetap dipanggil dengan nama pendek. Orangtuanya meninggal saat terjadi kebakaran, sehingga ia kemudian tinggal di panti asuhan yang pemiliknya bersifat sangatlah serakah. Ia dihukum berkali-kali atas perbuatan nakalnya, sebentuk perlawanan atas perlakuan penjaga panti yang tidak adil. Ray adalah anak yang cerdas, maka ia ingin mencegah ketidak adilan di panti asuhan di panti, ia seringkali bertanya; “Begitu banyak panti asuhan di kota ini, mengapa ia harus bertahun-tahun tinggal di panti yang seperti ini?” Maka ketika ia berusia 16 tahun, di pagi hari raya ia memutuskan untuk mencuri uang di kantor penjaga panti dan memilih untuk kabur dari tempat itu. Lalu, secara tidak sengaja ia menemukan potongan masa lalunya di pun sempat menjadi preman karena memutuskan kabur dari Panti Asuhan dan hidup di jalanan. Di luar panti, Ray menjalani kehidupan yang sungguh keras. Namun, di jalanan pula ia menemukan kebahagiaannya. Ia bisa makan semaunya tanpa di jatah seperti di panti, ia bisa tidur semaunya dan Ray bebas melakukan apa pun sesukanya. Di jalanan ini pulalah Ray menjalani hidupnya yang gelap. Mencuri, berjudi, hingga kemudian ia menemukan kehidupan yang berbeda di ibukota, setelah peristiwa kemenangan besarnya yang berakhir terdamparnya ia di salah satu rumah sakit ibukota. Di sana, ia tinggal di Rumah Singgah. Bertemu dengan anak-anak jalanan yang mempunyai banyak mimpi masa depan untuk menjadi lebih suatu ketika, Ray memutuskan keluar dari rumah penampungan dan kembali hidup gelandangan. Mengamen dari gerbong Kereta satu ke gerbong lainnya, sampai tinggal di kolong jembatan. Ray senang menaiki tower air, menyendiri dan melihat rembulan dari atas sana. Kehidupan Ray berubah drastis setelah ia nekad ikut mencuri berlian di salah satu Bank Internasional. Ray pulang ke kampungnya dan kemudian jatuh cinta pada Gadis Si gigi kelinci. Lantas kemudian mereka menikah dan Ray pun hidup bahagia karena dipercaya dan diangkat sebagai kepala sayang, kebahagiaan Ray tidak bertahan lama. Istrinya meninggal saat setelah melahirkan. Ray kembali ke kota dan merintis usaha baru dan yang kemudian sukses luar Ray jatuh sakit saat semua impian yang bahkan tak pernah ia bayangkan telah menjadi kenyataan. Ray tetap merasa hampa, kosong, sepi, bahkan meski ia memiliki banyak harta. Ray masih diberi kesempatan mengulang masa lalunya, merenungkannya, lantas memperbaikinya. “Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan merasa kurang dengan semua kesenangan, maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu.” Tere LiyeWalau saya adalah penggemar garis keras penulis yang berasal dari Sumatera Selatan ini, saya tidak begitu saja melewatkan kekurangan yang terdapat pada novel ini, tentunya menurut pendapat pribadi ini membosankan pada bab-bab awal. Jika seseorang yang kurang berminat dengan novel yang alurnya berjalan dengan perlahan, mungkin saja tidak akan mau menamatkan untuk membaca novel ini. resensi Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Sastra Download Free DOCXFree DOCXDownload Free PDFResensi Novel Rembulan Tenggelam di WajahmuResensi Novel Rembulan Tenggelam di WajahmuResensi Novel Rembulan Tenggelam di WajahmuResensi Novel Rembulan Tenggelam di WajahmuResensi Novel Rembulan Tenggelam di WajahmuMuhammad Kholid Ismatulloh Judul buku Rembulan Tenggelam di Wajahmu Pengarang Tere LiyePenerbit Republika Terbit Jakarta, 2009 Tebal buku 426 halaman Ray adalah seorang laki-laki yang hidup di panti asuhan. Namun karena penjaga panti asuhan melakukan tindakan semena-mena terhadap anak panti, maka Ray memutuskan untuk keluar dari panti asuhan tersebut. Ray memulai hidup baru di jalanan dan terjerumus dipergaulan yang salah. Ray memulai hidupnya menjadi seorang penjudi yang selalu menang. Namun, kemenangan Ray ini membuat preman lainnya menjadi iri, hingga akhirnya Ray dikeroyok preman dan masuk ke rumah sakit. “Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.” Setelah keluar dari rumah sakit, Ray hidup di rumah singgah selama 3 tahun, yang berada di Ibu Kota Jakata. Tapi Ray memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut. Akhirnya Ray kembali ke jalanan dan bertemu dengan Plee. Ia dan Plee menjadi pengamen jalanan. Tak disangka, ternyata Plee memiliki rencana jahat dan akan melakukan sebuah pencurian besar, yaitu mencuri berlian seribu karat. Sayangnya, Plee tertangkap dan harus dieksekusi hingga mati. “Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu.... Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.... Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.” Karena pencurian tersebut gagal dan Ray bisa menyelamatkan diri, Ray kembali ke kota asalnya, dan ia pun memulai kehidupan baru. Hidup Ray menjadi lebih baik, karena ia bekerja sebagai buruh kerja yang kemudian diangkat menjadi mandor. Ray juga menikah dengan seorang perempuan yatim piatu, yang sama dengan dirinya. Istrinya sangat baik hati dan mau mengerti Ray. Namun istrinya meninggal bersama dengan bayi yang ada dalam kandungannya. Ray kembali ke ibu kota dan terus merasakan kekosongan dalam hidupnya, walaupun di ibu kota ia menjalani kehidupan dengan berbisnis. Ray juga menjadi seorang pembisnis yang sangat kaya raya dan disegani. Tapi pada akhirnya Ray menderita sakit-sakitan hingga 6 tahun, dan ia menyadari arti kehidupannya yang berdampak pada orang lain, di penghujung umurnya. “Andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tahu apa itu, karna ilmumu terbatas. Kau hanya yakin , bila tidak di kehidupan ini suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibanding menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah.” Sukses menjadi novel best seller di Indonesia, novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu ini diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar, yang disutradai oleh Danial Rifki dan diproduksi oleh Max Pictures, ditahun 2019 silam. Ray yang sudah berumur 60 tahun tersebut, merasakan kekosongan yang begitu mendalam ditengah kesuksesannya. Ray bertemu dengan seorang laki-laki yang memiliki sosok teduh. Laki-laki tersebut tidak dikenali oleh Ray, namun lelaki itu membawa Ray kembali ke masa lalu dan menjawab semua pertanyaan yang pernah ditanyakan Ray kepada Tuhan.

resensi novel rembulan tenggelam di wajahmu